18 September 2009

Ramadhan kali ini…

16 September 2009.

Hari ke 26 puasa. Hari dimana saya akan mengantar pacar saya menuju Xtrans. Doi mo mudik ke ibu kota. Sebelum dia mudik, ceritanya mau beli oleh-oleh. Tersebutlah nama Kartika Sari, dan meluncurlah kami kesana, Kartika Sari Dago. Jalanan gak macet-macet amat dari arah Simpang, so.. saya pun santai aja menyetir mobil. Dari belokan Cikapayang menuju arah atas, saya sudah mengambil jalur kiri karena Kartika Sari ada di sebelah kiri, dan saya masih menyetir saaaantaiiii. Sampai tiba-tiba, ketika mobil sudah saya arahkan ke gerbang masuk Kartika Sari, jedaaarrrr…mobil saya dihantam oleh sepeda motor dari arah sebelah kiri. Seketika itu juga motor jatuh, dan seketika itu juga jantung saya berdegup sangat kencang.

Dalam sepersekian detik saya berusaha menenangkan emosi dan pikiran saya. Saya telah melakukan hal yang benar. Lampu sein sudah saya nyalakan dalam rangka memberi tanda kalau saya mau belok ke kiri. Berarti dalam kasus ini, saya gak sepenuhnya salah. Kesalahan saya adalah, saya gak tengok spion kiri, jadi tidak menyadari adanya pengendara motor yang melaju kencang dan mengambil jalur nyeleneh suka-suka dia. Hate those kind of bikers! Indeed! Hufff..baiklah, saya menenangkan diri lagi.

Kemudian pengendara motor itu turun dan mendatangi saya, dia marah-marah dan menyuruh saya turun dari mobil, Siapa takut? Akhirnya saya masuk dulu ke area parkir Kartika Sari dan setelah mobil saya mendapat tempat yang aman saya kembali mendatangi pengendara motor tersebut. Saya sempat melihat kerusakan yang ada di pintu mobil bagian kiri. Daaammnn…goresan sepanjang kurang lebih 20 cm mendarat dengan sukses. Hmmfff…wondering apa yang akan ayah saya katakan nantinya. But well, urusan lain masih menanti di depan pintu masuk Kartika Sari. Ya, si pengendara motor itu masih disana dan menunggu dengan muka masam.

Saya menghampiri dia, berargumen tentang kronologis kejadian dari sudut pandang masing-masing. Saya menjelaskan kalau saya telah memberikan lampu sein dan seharusnya pengendara motor cukup waras untuk melihat lampu tersebut, karena saya yakin, dari sekian banyak kerusakan yang tengah diderita oleh mobil saya, lampu sein masih berfungsi dengan sangat baik. Pengendara motor tetap keukeuh kalau saya yang salah, dia menjelaskan kalau dia tidak akan menyalip seandainya dia melihat lampu sein dari mobil saya. Voila!Kartu As saya dikeluarkan oleh sang pengendara motor tersebut! Saya langsung bilang “Mas, dimana-mana, menyalip dari sebelah kiri itu gak boleh. Itu udah aturan kalo mengemudi”. Pengendara motor sempat terdiam sepersekian detik, tapi ternyata dia pantang menyerah, dia tetap menyalahkan saya.

Berhubung saya malas ngomong dan kita sama-sama keukeuh, saya langsung ajak dia ke pos polisi terdekat, di belokan Cikapayang sudah terlihat ada pos polisi ketupat lebaran. Dua kepala yang bersitegang perlu satu kepala yang netral bukan? So Pak Polisi kali ini saya minta untuk menjalankan tugasnya. Simpel. Yang saya minta adalah pembenaran atas argumen saya kalau menyalip dari kiri itu sudah jelas pelanggaran lalu lintas. Pak Polisi yang baik hati itu dengan ramah menerima kami bertiga ( pacar saya ikut serta). Pak Polisi meminta kami berdua menjelaskan kronologis kejadian, dan kembali kami menjelaskan. Kami berdua saling beradu argumen di depan Pak Polisi.Tidak ditemukan titik tengah. Ya iyalah, dua-duanya keukeuuuh! Heeeuuuu! Sumpah saya ga mau ngalah!This part called stand for my own!

Pak Polisi akhirnya mengatakan “ Berhubung sama-sama tidak mau mengalah dan tidak ada kesepakatan secara damai, ya sudah, bisa dibawa ke pengadilan, Gimana? Bersedia kalau masing-masing kendaraan nya ditahan?”. Kami berdua sama-sama bersedia. On second thoughts, kalimat “what was I thinking?” muncul di pikiran saya. Haha. Tapi ya sudahlah, demi kebenaran dan keadilan broo..!

Kemudian Pak Polisi kembali berbicara “Ya sudah kalau sama-sama bersedia, nanti kita urus administrasi nya. Namun sebelumnya, saya ingin memberi informasi, bahwa memang menurut aturan lalu lintas menyalip dari sebelah kiri itu tidak boleh, itu berlaku di seluruh Indonesia. Saya tidak bermaksud memihak, saya hanya menjelaskan peraturan yang berlaku.Jadi bagaimana, masih mau mengurus ke pengadilan?”

Oooohhhh..sungguh saya senaaaang mendengar penjelasan dari Pak Polisi tersebut. Dan akhirnya pengendara motor mengajak saya untuk keluar dari pos polisi tersebut untuk berunding dalam rangka menyelesaikan masalah yang baru saja kami alami.

Perkara ganti rugi. Itu yang dia minta, dan dia gak mau memperpanjang urusan sampai pengadilan. Rp. 35.000 untuk membetulkan entah-bagian-mana-dari motornya. Saya merogoh tas saya sambil saya bilang, “Mas, perlu diingat ya, saya yang punya kerusakan lebih besar gak minta ganti rugi, saya cuma perlu Mas mengerti aturan mana yang benar”. Dengan manisnya dia membalas, “iya mbak saya orang yang gak mampu, saya sadar diri kalau saya ga bisa ngeganti”. Iiihhhh…..entah kenapa, kata-kata itu terdengar menyebalkan. Buat saya, disini bukan perkara mampu atau gak mampu, tapi perkara aware sama aturan! Heuuhh..lama-lama jadinya debat kusir, so langsung saya kasih aja tu uang Rp. 35.000,’ Saya anggap infaq aja lah. Karena kalo mo dibikin perkara sih, mana mau saya ganti rugi wong yang nyalip siapa yang ganti siapa.

Dan mood saya hancur berantakan dengan sukses hari itu, Sighhhhhh……..

Bukan orang Indonesia kalo gak ngambil point taken dari suatu musibah. Ngerti kan maksudnya? Gini nih contohnya ketika saya kecopetan, trus saya curcol sama teman-teman saya, pasti ada yang bilang, “untung baru duit lo yang ilang, bukan nyawa yang ilang”. Yeah, something like that lah; point taken :)

So, here it is, my points taken are…

…syukuuuur Allah masih melindungi saya sehingga saya dan pacar saya serta pengendara motornya masih diberi keselamatan,bersyukur juga karena saya masih bisa ngerasain emosi; bukan orang yang mati rasa, terus saya ga mesti ngeluarin kocek lebih banyak dan ga mesti ke pengadilan. Daaann saya bersyukur lagi karena saya disadarkan untuk lebih berhati-hati karena yang namanya kecelakaan bisa terjadi bukan hanya karena ada pihak yang sepenuhnya benar dan sepenuhnya salah, namun akibat adanya unsur ketidaksengajaan dan ketidakhati-hatian.

And the best for the last, keep remind this, berdoalah sebelum memulai perjalanan. Bahkan ketika kita melakukan banyak stop by, ingatlah untuk berdoa dari satu perjalanan stop by ke stop by yang lain. Karena ternyata, setelah saya ingat-ingat kembali, saya tidak melakukan itu ketika saya berangkat dari Tubagus Ismail menuju Kartika Sari.Hemmmm…..

2 comments:

Rahma said...

waaaaaahhhhh....
sabar deaaaa...
saya yang membacanya jadi ikut kesal...

Memang kasian sih, pake motor teh panas & dingin... Tapi yaaahhh, pake mobil juga kan macet,heueheu...

dEa.dEa.dEa said...

rahmaaa...
makasi uda baca curcol akyuuu..
heuheuu...
iya ma, sungguh emosiii..syukur aja gpp..:)

km nulis lg doong di bloog:D